Popular Music

Headlines News :
buah artikel telah ditulis
buah komentar masuk


">Index »'); document.write('

function showpostcount(json) { document.write(parseInt(json.feed.openSearch$totalResults.$t,10)); } buah artikel telah ditulis
buah komentar masuk


?max-results=10">Label 1

');
  • buah artikel telah ditulis
    buah komentar masuk


    ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");
">Index »'); document.write('

?max-results=10">Label 2');
  • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

POLRES TULUNGAGUNG DAN 12 PIMPINAN PERGURUAN PENCAKSILAT GELAR MOU


12 perguruan pencak silat di kabupaten Tulungagung menanda tangani nota kesepahaman untuk mencegah tawuran antar perguruan.

Penanda tanganan islah yang dilakukan di mapolres Tulungagung, Rabu siang di hadiri seluruh MUSPIDA termasuk Bupati Heru Cahyono, Ketua DPRD Tulungagung dan DANDIM 0807 Tulungagung.

Ini dilakukan guna mengakhiri kejadian tawuran antar perguruan pencak yang sering terjadi di kabupaten Tulungagung maupun kejadian serupa di Jombang pada 13 November 2011 lalu.

Kepada seluruh pimpinan perguruan pencak silat kapolres Tulungagung AKBP Agus Wijayanto menekankan, agar mampu menjaga stabilitas keamanan di Tulungagung.

Hal senada dikatakan Bupati Tulungagung, Ir. Heru Tjahjono, diharapkan seluruh warga tidak mudah diadu domba terlebih dengan isu perang antar perguruan pencak silat.

Kekuatan PERSAUDARAAN


Apa yang menarik dari PERSAUDARAAN ? apa yang dicari cari dari PERSAUDARAAN ? PERSAUDARAAN seperti apakah itu ? sederhana saja,SAUDARA pasti lebih dekat daripada sebatas teman atau sahabat. Tentu rasa simpati dan empati dalam hubungan SAUDARA itu melebihi hanya sebatas teman atau sahabat. Apakah memang demikian ? apakah memang ada bedanya antara hanya sebatas menjadi Teman,sahabat dan Saudara ?Apakah tidak ada rasa rela berkorban jika hanya sebatas teman atau sahabat ? atau tidak kah ada rasa memiliki jikalau hanya sebatas sahabat ? (*bersambung )

Ketika pesilat diatas angin

Saya menulis artikel ini saat kondisi Psikis dalam keadaan labil.Kesabaran saya sedang di uji,tapi saya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari ego,melihat lebih luas pada hamparan pemikiran yang realistis.Saya yang sampai hari ini meyakini falsafah sesepuh SH :Sekeras-kerasnya hati dan pribadi seseorang akan luluh juga jika dihadapi dengan kelembutan dan kasih sayang.
Tapi dimanakah falasafah ini sekarang berada ?di dalam hati sering datang dan pergi,Nafsu ingin membunuh sering …karena kenyataan dalam hidup ini.kalau tidak diserang yang diserang,kalau menghindar itu butuh kesabaran,kalau tidakmenghindar pasti akan berlawanan……sebenarnya sikap seperti apa yang paling bijaksana sebagai seorang pesilat ketika menghadapi setiap permasalahan ?

Tanpa mengurangi rasa hormat saya, terhadap para pendahulu ilmu beladiri,serta apa yangdiajarkan mereka, saya mencoba menulis apa yang saya bisa artikan sampais aat ini. Lagipula, saya hanyalah manusia dalam perjalanan.
Pertama adalah saya sering kali mendengar banyak sekali ocehan gak jelas darit eman- teman saya, tentang gimana mereka bertahan kalau diserang. Dengan hormat terhadap kaum feminis, dan pemerhati kemanusiaan, perkelahian itutidak mengenal belas kasihan, perkelahian itu bukan kompetisi dengan segala aturan.
Perkelahian adalah dimana makhluk mengeluarkan insting dasar mereka untuk bertahan hidup, tidak ada lg batas halal atau haram,mereka akan mengoptimalkan seluruh potensi dirinya, untuk selamat.Bukan semata baku hantam bogem mentah, atau saling mengunci satu samalain.Bayangkan sebuah tusuk gigi pun bisa melukai atau membunuh orang bila ditancapkan di mata atau bagian tubuh yang lunak. Itulah , tentang tidak terbatasnya bentuk cara melawan. Melihat segalasituasi dan kondisi dan memanfaatkannya 100% demi kemenangan dan keselamatan nyawa. Tidak ada benar atau salah, tidak ada curang atau jujur, tidak ada pengecut atau pemberani. Bahkan menjadi cukup berani untuk jadi seorang pengecut demi menyelamatkan pantat(nyawa) kita yang berharga.
Saya pernah mendengar bahwa manusia yang diberi talenta untuk berlidah tajam, akan menyerang dengan kata- kata pedasnya, lalu mereka berharap bahwa orang akan takluk setelah itu. Dengan hormat,kepada semua orang yang merasa bacotnya dapat menaklukkan orang cuma karena orang yang dibacotin tidak membalas,faktanya kata- kata hanya akan melukai emosional. Apapun sumpah serapah yang diberikan, tidak akan merubah status apapun. Mereka yang berlidahtajam akan mudahditaklukkan dan dibunuh, seperti rezim membungkam para demonstran.Karena pada dasarnya mereka membatasi instrumen bertahan dirinya, dan merasa orang yang bungkam tidak mampu mencelakakan mereka.Percayalah,saat tidak ada batasan hukum yang bisa melindungi orang- orang berlidah tajam, maka tak lebih dari krim yang dengan mudah dihancurkan. Jangan dorong orang ke titik itu.
Seorang dapat dengan mudah, dengan sombongnya menyuguhkan bentuk- bentuk indah dari beladiri, tp tanpa kejujuran, dan keefektifan, semua hanyalah omongkosong. Efektif dan jujur dalam bergerak, jangan berlebihan,janganterburu- buru, jangan aneh- aneh, selesaikan secepatnya, janganmembuat terlalu banyak bunga, ini bukan kontes keindahan. Bukan lg benar atau salah, tapi tepat atau tidak tepat. Lihat siapa musuhnya, dan taklukkan dengan segala cara.
Mengapa beladiri itu bukan kompetisi? karenatidak ada kejujuran dalam kompetisi, pada satu titik beladiri harus mematikan lawan dengan cara apapun juga. Dengan kompetisi dan aturan,inti sari dari mengoptimalkan segala kemampuan menjadi hilang. Apakah mungkin untuk melakukan aksi menggigit bila sudah dalam posisi terkunci dalam kompetisi, atau menusuk mata dan hal lain yang sifatnya mematikan dalam sebuah iklim perlombaan ?
Orang yang hidup dalam jalan beladiri mengerti bahwa mereka tidak boleh, tidak bisa dan tidak akan pernah membuka celah untuk serangan pada dirinya.Mereka secara rutin akan selalu memeriksa dirinya dan mencoba meningkatkan kefektifandirinya. Mereka tidak akan memancing sebuah permusuhan, karena mengerti bahwa hal kecil akan bisa berkembang menjadibesar, sehingga berpeluang untuk menjadi maut untuk dirinya. Merekatidak berteman, tidakberistri, tidak berhubungan dengan individu lainselain dirinya dantidak menciptakan keterikatan pada apapun, karena sadar bahwa setiap ikatan dapat mencelakakan orang lain maupun dirinya.Sebagai contoh,mungkinkah seratus persen mengoptimalkan pertahanan diri, saat pikiran terpecah antara melindungi diri, atau melindungi yang disayangi.
Hidup di jalan beladiri berarti 100% mengabdikan diri, segenap jiwa dan raga pada jalan ini. Seumur hidup mengasah diri.

Setia Hati dan Misteri Kembang Wijoyo Kusumo


INi bukan isu baru yang dimunculkan,Tapi sekedar "istilah'' yang kami artikan ketika banyak para generasi muda mencari identitas diri Apa SH yang diikutinya selama ini ? bahkan sesuatu yang klise pun menjadi perdebatan bahwa SH saya lah yang asli ! . Saudaraku , perselisihan ini harus segera diakhiri dengan menelusuri jalan terjal dan bekelok demi sejarah yang benar.Ketika sejarah telah berbicara,maka siapkah kita "legowo"? menerima dengan lapang dada ,apa SH kita ?
Saudaraku,Menjadi BIjak itu baik, dan menjadi sabar itu akan tenang ! tapi "diam agar berarti emas juga salah ! . Berbicaralah dengan dasar,dan fakta,karena dari mulut kemulut saja tidak akan menjadi baik tanpa kita tergelitik untuk mengejar terus muara sejarah ini.
Baiklah kita mulai saja, Setia Hati ini di mulai dari seorang manusia yang kemudian tercerahkan karena rasa keingintahuannya yang begitu besar.Hingga berguru kemanapun mutiara ilmu itu bertahta, beliau kejar ,hingga tersebutlah lelaki muda bernama Masdan itu dengan kepiawaiannya dalam olah gerak permainan silat yang dinamakan "Joyo gendilo cipto mulyo"," Sedulur Tunggal Kecer" . Jika kita melihat jauh di masa itu, adalah masa sebelum kemerdekaan.Yang mana segala sesuatu akan dalam pengawasan bangsa penjajah,jelas ini memunculkan berbagai prilaku dan kebiasaan,yang mengarah akhirnya bagaimana caranya mengakhiri penderitaan bangsa ini.Jadi bela diri pencak silat menjadi nyawa kedua untuk mempertahankan diri .Beradu , berperang pun saat itu adalah pada situasi dan kondisi yang tepat.Jadi sangatlah Naif jika kemampuan kita sekarang ini akhirnya untuk memerangi saudara sendiri. Mari kita lanjutkan ,Karena Setia Hati masih dalam bentuk paguyuban ,maka segala apa yang menjadi titah guru adalah sabda.Begitu juga dengan Bapak masdan ,yang saat itu mempunyai beberapa murid ,dan normalnya setiap kelas pasti akan dihuni murid dengan tingkat kecerdasan yang berbeda.Ada yang mampu mencerna ilmu dengan tepat ,penuh dan patuh, tapi juga ada yang "asal" bahkan mencoba coba untuk memodifikasi ilmu itu. Guru besar sebagai penemu sebuah ilmu tentunya memiliki semua kunci atas ujian ataupun soal soal jawaban . Nah otomatis darisini saudara akan berfikir, apakah semua ilmu itu diberikan kepada semua muridnya ? apalagi dengan tingkat kemampuan yang berbeda? atau bahkan jika Kepatuhan,kedisiplinan,kesetiaan pun di berlakukan, pada siapa kira kira Bapak Masdan akan membukan pencerahan itu sepenuhnya ? ini misteri yang belum terpecahkan , dan kalaupun sudah ,pasti tersimpan rapat rapat agar tidak menimbulkan pertikaian baru. jadi jika kebiasaan buruk " pertikaian" " tawuran" "saling serang " ini terus dilanjutkan , maka betapa rendah dan hinanya cara berfikir kita .
Saudaraku , Jelas Kembang Wijoyo Kusumo itu ada pada tangan kanan seorang murid kinasih dan sangat dipercaya Bapak Masdan. Tapi sudahlah sampai disini semestinya kita bisa bersikap bijak , bahwa kita selalu membutuhkan orang lain,asalkan tidak ada pengkhianatan.
Saudaraku , sampai disini apakah anda memahami tulisan saya ? intinya adalah : perdebatan panjang yang selama ini meminta korban nyawa cukup hentikan ! mari berfikir dan bersikap bijak dibawah aturan organisasi kita masing masing dengan tidak meninggalkan sikap saling menghormati satu sama lain,tidak ada manusia yang sempurna.Bapak masdan meninggalkan ilmu ini untuk di cerna, di amalkan dalam koridor kemaslahatan amar ma'ruf nahi munkar, bukan untuk menciptakan bajingan bajingan ,preman dan dajjal di dunia.
Salam persaudaraan !

Leluhur Kami EYANG SURO

Kesabaran dalam Pencak Silat
Muhamad Masdan lahir pada 1869 di daerah Gresik (Jawa Timur). Kelak kemudian putra tertua Ki Ngabehi Soeromihardjo ini dikenal dengan dengan nama Ki Ageng Hadji Ngabehi Soerodiwirdjo (Eyang Suro).
Setahun setelah menyelesaikan pendidikan formal setingkat SD, beliau mendapat pekerjaan magang sebagai juru tulis pada seorang kontroler (orang Belanda). Selain bekerja, beliau tetap meneruskan belajar di Pesantren Tebuireng (Jombang). Dari Pesantren inilah, Eyang Suro mulai mendalami ilmu agama dan pencak silat sekaligus. Kombinasi ini terus menjadi pola belajar yang beliau dapatkan selepas dari Tebuireng. Seperti ketika kemudian ditugaskan sebagai pegawai pengawas di Bandung, dimana selain menambah wawasan agama dari guru setempat, juga mendapatkan ilmu pencak silat aliran Pasundan seperti Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibaduyut, Cimalaya dan Sumedangan.
Hanya setahun di Bandung, beliau harus pindah kerja ke Jakarta (Batavia). Dan selama di Jakarta pun, beliau menggunakan kesempatan untuk memperdalam ilmunya pada guru agama yang juga mengajarkan pencak silat aliran Betawen, Kwitang dan Monyetan. Setelah setahun, kemudian harus pindah kerja lagi ke Bengkulu selama 6 bulan, lalu ke Padang (Sumatra Barat). Di daerah ini, beliau tinggal hampir selama empat tahun dan juga tetap meneruskan belajar. Namun dalam budaya Minangkabau pada saat itu, mempelajari pencak silat setempat tidak mudah. Guru-guru tingkat tinggi umumnya adalah juga seorang sufi yang tidak sembarangan mengajarkan ilmu atau mengangkat murid. Salah seorang guru Eyang Suro di sini adalah Datuk Rajo Batuah. Selama di Sumatra Barat ini, beliau juga menambah penguasaan ilmu pencak silatnya dari aliran Minangkabau dan Bukittinggi. Selanjutnya Eyang Suro harus pindah tempat kerja lagi ke Aceh yang memungkinkannya memperdalam ilmu dari guru-guru di daerah setempat seperti Tengku Achmad Mulia Ibrahim, dll yang selain mengajarkan agama juga pencak silat Aceh.
Setelah empat tahun berada di Aceh, Eyang Suro kembali ke Surabaya (Jawa Timur). Ketika kemudian mulai banyak murid yang bermaksud belajar kepadanya maka agar lebih terorganisasikan kemudian dibentuk perguruan pencak silat dengan nama (dalam ejaan baru) Joyo Gendilo Cipto Mulyo / Sedulur Tunggal Kecer. Sebuah perguruan pencak silat yang kelak berkembang menjadi banyak perguruan seperti Persaudaraan Setia Hati, Setia Hati Terate, KPS Nusantara, dan beberapa nama perguruan pencak silat lainnya lagi.
Walaupun menguasai pencak silat tingkat tinggi dari berbagai daerah di Nusantara, namun justru oleh mereka yang mengenalnya, Eyang Suro sendiri dikatakan sebagai pribadi yang sangat sabar dan ramah. Beliau sendiri mengajarkan bahwa pada tingkatan tertinggi, olah pencak silat bukan lagi pada fisik tetapi spiritual, menuju pengenalan jatidiri sejati. Meskipun tidak banyak, namun ada murid-murid beliau yang kemudian mencapai tingkatan tersebut. Diantaranya alm. Bp. Bambang Soebijantoro Karto Koesoemo (terakhir menjabat sebagai Bupati Ngawi pada 1965-1967), salah seorang keponakan beliau yang karena kecerdasannya (antara lain menguasai beragam bahasa asing secara otodidak) juga menjadi penerjemah pemerintah untuk para tamu negara. Pada 2006, seorang murid (kini tinggal di Taiwan bersama keluarganya) yang sebelumnya telah menyelesaikan jenjang pendekar dari salah satu Perguruan beliau di Madiun juga kemudian mencapai tingkatan pencerahan tersebut.
Tulungagung,
 

Label 1

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Setia Hati - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger